Minggu, 22 Januari 2012

My Class Action Research

SISWA KELAS XII IPA 1 SMA N 4 OKU
DENGAN PRESENTASI MENGGUNAKAN VIDEO PENDEK


Oleh
JONIZAR, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan menemukan apakah dengan presentasi menggunakan video pendek kemampuan berbicara siswa kelas XII IPA 1 dapat meningkat. Penelitian ditujukan bagi siswa kelas XII IPA 1 SMA N 4 OKU yang terdiri dari 41 orang siswa. Kegiatan dilaksanakan dengan menugaskan pada siswa mempresentasikan video pendek. Sebelum, selama dan sesudah kegiatan berlangsung penulis mengamati dan membuat catatan lapangan dengan bantuan kolaborator. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)  ini dilakukan dalam 2 siklus. Dimana tiap siklus meliputi 4 tahap yaitu : Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan dan Interpretasi serta Menganalisa dan Merefleksikan. Setiap siklus berlangsung  dalam waktu 3 minggu, 45 menit setiap pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan berbicara siswa dapat ditingkatkan dengan presentasi menggunakan video pendek. Kegiatan ini mampu memotivasi  siswa guna berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar mengajar.

Kata kunci : keterampilan berbicara, presentasi, video pendek
BAB I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Keterampilan berbicara merupakan satu dari keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai siswa sebab keterampilan ini merupakan keterampilan terpenting dari keempat keterampilan berbahasa sebagaimana dinyatakan oleh Url (1996:120) seperti yang dikutip oleh Zhang (2009:32), itulah sebabnya salah satu motivasi seseorang belajar bahasa asing atau bahasa kedua adalah agar mampu berkomunikasi dengan penutur asli bahasa tersebut. Berkenaan dengan standar kelulusan siswa SMA/MA telah dinyatakan di dalam  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI tentang SKL untuk  Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah  bidang studi bahasa Inggris untuk SMA/MA (2006: 45) yang dikeluarkan oleh Depdiknas disebutkan bahwa standar kompetensi lulusan untuk kompetensi berbicara adalah mengungkapkan makna secara lisan dalam wacacana interpersonal dan interaksional,  dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, news item, report,  analytical exposition, hortatory exposition, spoof, explanation, discussion dan review, dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, sejumlah siswa peneliti mengalami kesulitan menyampaikan ide secara lisan dalam bahasa Inggris. Sebagian besar mereka takut, tidak nyaman dan tidak tahu apa yang harus disampaikan. Mereka memang tahu banyak tentang bahasa Inggris tapi sayangnya tidak tahu harus berbuat apa terhadap bahasa tersebut. Siswa nampak khawatir bila akan diuji kemampuan berbicara. Berbeda sekali manakala mereka diuji secara tertulis mereka tampak lebih nyaman walaupun hasilnya belum pasti memuaskan.
Keterampilan berbicara siswa kelas XII IPA 1 SMA N 4 OKU masih belum memuaskan seperti yang terlihat pada data  nilai ujian aspek psikomotorik pada semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010. Data tersebut  menunjukkan  bahwa masih ada ,  41,46 % (17 orang siswa) belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 72 dengan nilai rata-rata 74,60.   .
Jika dikaji lebih dalam, maka hal tersebut dapat terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor siswa saja, melainkan juga dari pihak sekolah dan guru sendiri. Dua dintaranya adalah jumlah siswa yang berlebihan dan   guru pada saat proses pembelajaran kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif berlatih berbicara.
Pelatihan keterampilan berbicara menurut Yang pada http://eca.state.gov./forum/vols/vol137/no4/p22.htm dapat dimulai dengan menganalisa latar belakang siswa dan mencoba menemukan cara meminimalkan beban psikologis siswa sehingga mereka mau berbicara secara sukarela. Lebih lanjut, ketika pelatihan sedang berlangsung  seorang guru sebagaimana dinyatakan oleh Eillei (1996) bertugas membuat siswa merasa butuh menyampaikan idenya secara lisan. Hal ini akan mendukung siswa sehingga mereka benar-benar mau melakukan komunikasi yang  sesungguhnya tanpa kontrol eksternal sebagaimana dikutip oleh Robinet (1980:205) dari Prator (1965).
Penelitian ini berjudul ”Peningkatan Keterampilan Berbicara Dengan Presentasi Menggunakan Video Pendek Bagi Siswa Kelas XII IPA 1 SMA Negeri 4 OKU”. Penelitian bermula dari pokok permasalahan bahwa pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas XII IPA SMA Negeri 4 OKU bersifat monoton sehingga siswa menjadi jenuh selama kegitatan belajar mengajar dan akibatnya keterampilan berbicara siswa kurang maksimal. Selain itu, penelitian ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa presentasi menggunakan video pendek akan mampu memberikan motivasi dan ide untuk mengekspresikan ide secara lisan. Kemampuan siswa dalam mengoperasikan perangkat komputer dan mengunduh video merupakan hal yang akan sangat mendukung kegiatan ini. 
1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka masalah utama yang diteliti pada penelitian tindakan kelas ini adalah “Apakah presentasi menggunakan video pendek  dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 4 OKU?
1.3   Tujuan Penelitian
    Tujuan  penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah presentasi menggunakan video pendek dapat meningkatkan  kemampuan berbicara siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 4 OKU.
1.4   Manfaat Penelitian
    Ada beberapa manfaat dalam penelitian ini baik bagi siswa maupun bagi guru bahasa Inggris yaitu:
1) Bagi siswa:
     a)   Terjadi perubahan sikap dari kurang percaya diri dan nyaman menjadi lebih
           percaya diri dan nyaman dalam berbicara. 
     b)   Terjadi peningkatan kemampuan berbicara secara bertahap.
    c)    Mengalami suasana belajar yang lebih variatif
2) Bagi guru:
     a)   Memahami karakteristik dan kemampuan berbicara siswa.
     b)   Memberikan pengalaman berbicara bahasa siswa.
     c)   Mampu mengatasi masalah yang timbul khususnya pada pembelajaran 
keterampilan berbicara. 





BAB II
KAJIAN TEORI

2.1  Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Pelajaran bahasa Inggris menurut petunjuk teknis pengembangan silabus dan contoh/model silabus ( BSNP dan Depdiknas, 2007) menekankan pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan berbahasa lisan dan tulis baik respektif maupun produktif. Disini jelas bahwa bahasa dipandang sebagai alat komunikasi sosial bukan sekedar seperangkat aturan atau grammar dengan kosakatanya. Untuk mendapatkan kompetensi komunikatif, siswa harus terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Disamping mengajarkan keterampilan berbahasa, guru juga dituntut untuk membimbing siswa untuk bisa belajar mandiri (teach how to learn). Selain itu pengajaran bahasa Inggris juga harus dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk terus belajar meskipun sudah selesai dari lembaga sekolah (long life education). Untuk itu kegiatan pembelajaran di kelas harus menarik dan berorientasi pada kehidupan yang sebenarnya (real world), maksudnya harus ada keterkaitan antara apa yang dipelajari di dalam kelas dengan kehidupan di luar kelas. Dengan demikian siswa akan memiliki keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupannya (life skill).
Dalam pengajaran keterampilan berbicara menururut Brown dan Yule ( 1983) hendaknya tidak hanya difokuskan pada interaksional tapi juga percakapan transaksional yang lebih panjang umpamanya diskusi atau presentasi. Hal ini memungkinkan siswa akan lebih mampu mengkomunikasikan informasi secara efisien di dalam bahasa asing yang sedang dipelajarinya. Untuk mendukung aktivitas pengajaran keterampilan berbicara diperlukan upaya yang dapat mengurangi tekanan (pressure) yang menjadi penyebab perasaan tidak nyaman siswa. Menurut Nunan sebagaimana dikutip oleh Cholewinski pada http://eca.state.gov./forum vols/vol137/no.4/p.25.htm mengemukakan bahwa kegiatan komunikasi di kelas lebih menarik bilamana siswa dilibatkan dalam memahami, memproduksi atau berinteraksi dalam bahasa target yang pada prinsipnya lebih memfokuskan pada makna bukan pada formula tata bahasa.
Seiring berubahnya paradigma pendidikan saat ini, siswa dapat berperanan lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Mereka bukan lagi obyek, akan tetapi lebih dari itu mereka dapat berperan sebagai subyek baik dalam perencanaan maupun aplikasinya dalam kegiatan belajar mengajar. Dibutuhkan media dan aktifitas pembelajaran yang dapat memfasilitasi peranan siswa tersebut. Banyak aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mendukung proses pembelajaran salah satu diantranya adalah presentasi.
2.2    Definisi dan Manfaat Presentasi

Presentasi menurut Kamus Besar Indonesia (2002 :895) merupakan penyajian atau pertunjukan (tentang sandiwara, film dsb) kepada orang –orang yang diundang. Sejalan dengan ini dalam pembelajaran bahasa menurut Spratt dan Dangerfield (1985:17) presentasi  akan mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuktikan manfaat dan relevansi bahan baru pelajaran bahasa yang dipelajarinya. Bahkan lebih jauh presentasipun dapat juga melatih memori emosional siswa (Gunawan, 2003) dalam menguasai materi belajar. Berdasarkan uraian di atas nampak  bahwa presentasi tidak hanya bermanfaat dalam pembelajaran bahasa akan tetapi bermanfaat pula dalam kehidupan siswa sehari-hari sekarang maupun yang akan datang.
2.3    Video dalam Pengajaran bahasa Inggris

Banyak media belajar yang dapat membuat pembelajaran lebih bermakna. Satu diantaranya adalah video. Pernyataan bahwa video dapat digunakan sebagai alat pengajaran bahasa Inggris pernah diungkapkan oleh pakar (Miller dan Brennan, 1988; Dawson, 1988) sebagaimana dikutip oleh Cahyono (1997 : 128) amatlah beralasan. Pernyataan itu dilandasi oleh nilai-nilai yang dapat dipetik dari penggunaan video sebagai alat pengajaran bahasa Inggris di kelas.
Pertama, video dapat memberikan perilaku situasi komunikatif di kelas pembelajar; pembelajar dapat melihat dan mendengarkan perilaku dan kata – kata para aktor dan aktris dalam situasi yang sebenarnya tempat terjadinya komunikasi.
Kedua, video dapat menunjukkan hubungan sosial dan perilaku para karakter dalam video. Dari hubungan sosial dan perilaku itu pembelajar dapat mengamati unsur-unsur non linguistik secara jelas, misalnya ekspresi wajah, isyarat organ -  organ tubuh, dan emosi.
Ketiga, video dapat merupakan alat pengajaran yang dapat menumbuhkan motivasi. Hal itu disebabkan karena adegan dalam video merupakan adegaan ”hidup” dan tidak menjemukan, dan situasi-situasi yang ada dalam video dapat didentifikasi oleh pembelajar.
Keempat, video dapat memberikan informasi kebudayaan. Misalnya, video yang diproduksi di Inggris atau Amerika Serikat membantu pembelajar melihat bagaimana dan di mana para penutur asli bahasa Inggris tinggal dan mereka dapat menemukan informasi kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan mereka.
Kelima, video dapat digunakan sebagai penunjang kegiatan pengajaran keterampilan berbahasa maupun elemen bahasa. Misalnya, materi yang disajikan dalam video dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan diskusi, komposisi, simulasi, dan bermain peran. Video juga dapat memberikan latihan ucapan, kosa kata, struktur, idiom, dan fungsi. Di samping itu, video juga dapat memberikan latar belakang skema yang relevan yang membuat bahasa dalam konteks itu menjadi relevan dan mudah dipahami.
Video yang dimanfaatkan haruslah bersesuaian tidak hanya dengan tujuan pembelajaran tetapi juga dengan nilai yang dianut oleh guru dan pembelajar. Dengan demikian diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat namun tidak menggerus nilai yang dianut siswa maupun guru. Untuk presentasi yang  dilaksanakan dalam PBM dengan durasi 45 menit, maka video pendek yang berdurasi tidak lebih dari 2 menitlah yang tepat digunakan. Hal ini memungkinkan lebih banyak siswa yang memiliki kesempatan menyampaikan ide mereka secara langsung.


















BAB III
LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
3.1    Metode Penelitian
    Pembelajaran dilaksanakan dengan maksud meningkatkan hasil pembelajaran dengan presentasi yang dicatat dan diteliti dengan langkah-langkah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas dilakukan berdasarkan teori yang dikemukakan Kemmis (dikutip Suhardjono, 2006).
    Di dalam penelitian ini guru sebagai praktisi yang meminta siswa menggunakan video pendek dalam presentasi dibantu rekan sejawat dalam memantau, mencatat aktivitas siswa dalam baik pada catatan lapangan maupun lembar observasi sehingga memudahkan peneliti melakukan refleksi.
Prosedur kerja penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklusnya terdiri atas 4 aspek, yaitu: penyusunan rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Jadi, pada siklus I direncanakan, dilaksanakan dan direfleksikan pelaksanaan pembelajaran presentasi menggunakan video pendek. Hasil refleksi terhadap siklus I dijadikan dasar untuk memodifikasi dan membuat rencana tindakan II, yang dilaksanakan, diobservasi , direfleksikan pada akhir siklus II. Demikian selanjutnya sampai siklus II berakhir yang ditandai peningkatan pada kriteria keberhasilan.
3.2     Langkah-langkah Penelitian
3.2.1    Siklus I
3.2.1.1    Perencanaan
    Sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan analisis hasil ulangan semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 kelas XII IPA 1 SMAN 4 OKU khususnya aspek psikomotorik. Berdasarkan hasil ulangan semester ganjil tersebut masih terdapat 41,46 % siswa (17 orang siswa) belum mencapai KKM seperti nampak pada tabel 1.
TABEL 1
 DAFTAR NILAI SEMESTER GANJIL            Mata Pelajaran    : Bahasa Inggris
ASPEK PSIKOMOTORIK            Kelas/program    : XII IPA 1
TAHUN PELAJARAN : 2009/2010        Semester    : Ganjil
                        KKM        : 72


No    Nama Siswa    Nilai    Ketercapaian Kompetensi
1    Ahamad Dedat    88    Mencapai KKM
2    Aninditha Rahmah R    78    Mencapai KKM
3    Anita Carolina    70    Belum Mencapai KKM
4    Apriyanti    55    Belum Mencapai KKM
5    Arif Kusuma Nugraha    65    Belum Mencapai KKM
6    Arindona    82    Mencapai KKM
7    Bagus Praseptyo Aji A    76    Mencapai KKM
8    Bima Sanjaya    82    Mencapai KKM
9    Deta Helisanova    78    Mencapai KKM
10    Devita Sari    78    Mencapai KKM
11    Dhani Wisnu Saputro    76    Mencapai KKM
12    Eryleo Ridho    60    Belum Mencapai KKM
13    Etty Oktaria    82    Mencapai KKM
14    Fasha Qarie Barda    73    Belum Mencapai KKM
15    Fatma Olina    82    Mencapai KKM
16    Fauzi Widiyanto    70    Belum Mencapai KKM
17    Hengky Saputra    70    Belum Mencapai KKM
18    Herdi Saputra    70    Belum Mencapai KKM
19    Ira Purnamasari    75    Mencapai KKM
20    Karina Dwi Aragi    82    Mencapai KKM
21    Linda Hastuti    70    Belum Mencapai KKM
22    M Afdal    78    Mencapai KKM
23    M Reza Pahlevi    82    Mencapai KKM
24    Masayu Vidia Silvany    60    Belum Mencapai KKM
25    Melissa Sundari    85    Mencapai KKM
26    Meta Yuliana    85    Mencapai KKM
27    Mona Herlianti Siahaan    68    Belum Mencapai KKM
28    Noval Agustian    80    Mencapai KKM
29    Nora Soraya Sinabutar    78    Mencapai KKM
30    Ovillia Della Prativi    88    Mencapai KKM
31    Peggy Septianingrum    68    Belum Mencapai KKM
32    Riki Apriansyah    60    Belum Mencapai KKM
33    Riski Lesponda    82    Mencapai KKM
34    Rizka Agustin    85    Mencapai KKM
35    Rizki Juliantara    82    Mencapai KKM
36    Sadra Ihsani    67    Belum Mencapai KKM
37    Ummi Wahyuni    79    Mencapai KKM
38    Vera Rosalina S    65    Belum Mencapai KKM
39    Yessy Seftiani    60    Belum Mencapai KKM
40    Yulia Putri Maya Sari    60    Belum Mencapai KKM
41    Zainuna Rahayu    85    Mencapai KKM

Sumber : Daftar Nilai Semester Ganjil SMA N 4 OKU

Selain itu,  peneliti bertanya kepada siswa dan menawarkan presentasi dengan video pendek dalam pelatihan kompetensi berbicara bahasa Inggris. Dari hasil analisis dan tanya jawab tersebut dilakukan refleksi awal penelitian tindakan ini dan diputuskan bahwa presentasi dengan video pendek dapat digunakan dalam meningkatkan keterampilan berbicara.
    Untuk merealisasikan kegiatan tersebut, peneliti menyusun rencana pembelajaran berbicara yang berisikan deskripsi pembelajaran berbicara, tujuan pembelajaran, dan langkah-langkah pembelajaran.
    Disusun pula rancangan catatan lapangan, format observasi keseringan siswa berbicara dan ketrampilan berbicara siswa.
3.2.1.2    Pelaksanaan
Pertemuan I
    Pada pertemuan ini, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1.    Guru membuka pelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.    Guru memperlihatkan satu video pendek dengan judul A Letter to Daddy.
3.    Guru meminta siswa menyampaikan pendapatnya tentang isi video.
4.    Guru menjelaskan tata bahasa dan kosakata yang tidak tepat digunakan siswa.
5.    Guru membagi kelas ke dalam 5 kelompok @ 8 orang.
6.    Guru menugaskan siswa untuk mengunduh video pendek sebagai tugas di rumah.
7.    Guru menugaskan siswa menuliskan deskripi singkat isi video pendek.
Peretemuan II
    Pada pertemuan 2 ini, kegiatan yang dilakukan adalah sebgai berikut.
1.    Guru membuka pelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.    Kelompok I membagikan salinan deskripsi isi video kepada kelompok     lain.
3.    Kelompok I menampilkan video pendek berjudul If a baby could talk.
4.    Anggota kelompok lain menanggapi video kelompok I.
5.    Guru memberikan motivasi dan menjelaskan kalimat atau tata bahasa yang     seyogyanya digunakan.
6.    Guru menugaskan kelompok II mempersiapkan presentasi pada pertemuan berikut.
Pertemuan III
    Pada pertemuan 3 ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.
1.    Guru membuka pelajaran dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.    Kelompok II membagikan salinan deskripsi isi video kepada kelompok lain.
3.    Kelompok II menampilkan video berjudul A Smiling Baby.
4.    Anggota kelompok lain menanggapi video kelompok II.
5.     Guru menyimpulkan jawaban siswa dan menjelaskan pilihan kata atau frase dan          tata bahasa yang kurang tepat dalam bertanya.

3.2.1.3    Pemantauan atau Observasi
    Pengamatan atau observasi yang dilakukan dalam penelitian  ini menggunakan instrument pengumpulan dta, yaitu dokumentasi dan pengamatan atau observasi.
3.2.1.3.1 Dokumentasi
        Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ujian semester ganjil aspek psikomotor tahun pelajaran 2009/2010. Data ini menunjukkan 41,46 % (17 orang siswa) belum mencapai kriteria ketuntasan minimal 72 dengan nilai rata-rata 74,60. Hal ini menampakkan kesenjangan yang cukup signifikan antara siswa yang melampaui KKM dengan yang belum.
3.2.1.3.2  Observasi atau Pengamatan
        Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan guru bersama kolaborator dalam proses pembelajaran. Observasi difokuskan pada tingkat keseringan dan keterampilan berbicara siswa.


Adapun aspek-aspek yang diamati dan dinilai oleh kolaborator dan guru adalah seperti tertera pada tabel berikut:
TABEL 2
1) Format Observasi Tingkat Keseringan Berbicara


No   
Nama Siswa    Waktu Berbicara

        Menit ke 10    Menit ke 20    Menit ke 30    Menit ke 40
                   
                   
                   
                   
                   

2) Format Observasi Keterampilan  Berbicara Siswa
TABEL 3

No   
Nama Siswa    Aspek Yang Dinilai

        Kelancaran
(skor 1-3)    Kosakata
(skor 1-3)    Pelafalan
(skor 1-3)    Pemahaman
(skor 1-3)
                   
                   
                   
                   
                   

3.2.1.4  Refleksi
        Informasi pelaksanaan tindakan yang diperoleh melalui kegitan observasi dalam tiap siklus dan catatan lapngan dijadikan bahan untuk melakukan refleksi akhir pada tiap siklus. Hasil refleksi yang telah disimpulkan menjadi dasar dalam menetapkan tindakan siklus berikutnya.


3.2.2    Siklus II
    Siklus kedua dilaksanakan guna melanjutkan kegiatan pada siklus pertama. Siklus ini meliputi pertemuan I, II dan III.
Pertemuan I
    Pada pertemuan 4, kegiatan yang dialksankan adalah sebagai berikut.
1.    Guru membuka pembelajaran dan menyampikan tujuan pembelajaran
2.    Kelompok III membagikan deskripsi isi video.
3.    Kelompok III menampilkan video berjudul Children See Children Do.
4.    Anggota kelompok lain menanggapi video kelompok III.
5.     Guru menyimpulkan jawaban siswa dan menjelaskan pilihan kata atau frase dan tata     bahasa yang kurang tepat dalam bertanya.
Pertemuan II
    Pada pertemuan 5, kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.
1.    Guru membuka pembelajaran dan menyampikan tujuan pembelajaran
2.    Kelompok IV membagikan deskripsi isi video.
3.    Kelompok IV menampilkan video berjudul Shaking Baby.
4.    Anggota kelompok lain menanggapi video kelompok IV.
5.     Guru menyimpulkan jawaban siswa dan menjelaskan pilihan kata atau frase dan          tata bahasa yang kurang tepat dalam bertanya.
Pertemuan III
    Pada pertemuan 6, kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.
1.    Guru membuka pembelajaran dan menyampikan tujuan pembelajaran
2.    Kelompok V membagikan deskripsi isi video.
3.    Kelompok V menampilkan video berjudul Don’t Just Stand, Child Abused.

4.    Anggota kelompok lain menanggapi video kelompok V.
5.     Guru menyimpulkan jawaban siswa dan menjelaskan pilihan kata atau frase dan          tata bahasa yang kurang tepat dalam bertanya.

3.3  Teknik Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan
        Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara membuat perbandingan nilai psikomotor pada semester ganjil tahun  pelajaran 2009/2010 kelas XII IPA 1 dengan nilai psikomotor mid semester genap tahun pelajaran 2009/2010 kelas XII IPA  1 serta nilai ujian praktik berbicara tahun pelajaran 2009/2010.
        Keberhasilan tindakan juga dilihat dari aspek proses yang terlihat pada lembar observasi atau catatan lapangan. Tindakan dikatagorikan berhasil apabila siswa terlihat kreatif dalam bertanya, menyanggah dan menjawab pertanyaan.
        Dari segi peningkatan kemampuan siswa dilihat dari nilai rata-rata kelas. Apabila nilai rata-rata kelas setelah dilakukan tindakan lebih besar daripada nilai rata-rata kelas sebelum tindakan, dapat dikatakan terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam berbicara.
   





BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
    Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus. Tujuan siklus untuk memperbaiki hasil belajar sebelum perlakun berlangsung. Berdasarkan hasil ujian semester ganjil  aspek psikomotorik,  Berdasarkan hasil ulangan semester ganjil tersebut masih terdapat 17 orang siswa belum mencapai KKM. Keadaan ini mengisyarakatkan bahwa pembelajaran untuk keterampilan berbicara belum tuntas.
4.1 Hasil dan Pembahasan Tindakan Siklus I
    Penelitian siklus I ini dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Setiap pertemuan itu dilakukan selama 45 menit (1 jam pelajaran). Perlakukan tindakan dilakukan pada kelas XII IPA 1 dengan jumlah siswa 41 orang. Tindakan siklus kesatu dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 45 menit.
4.1.1   Hasil dan Pembahasan Siklus I pada Pertemuan ke-1
        Berdasarkan hasil observasi dalam siklus kesatu pertemuan kesatu, peneliti menemukan bahwa , 29,26 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban guru (lihat lampiran 3). Dari segi keterampilan berbicara, baru 34,14 % yang memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 4). Walaupun demikian, peneliti masih perlu memberikan motivasi dan menjelaskan kalimat atau tata bahasa yang sebaiknya diperbaiki misal : if parents can’t manage his time, I will feel surprised  dan in one side, on the other side (lihat lampiran 5). Lebih lanjut, peneliti menyarankan hendaknya presentasi kelompok I juga dilengkapi dengan salinan deskripsi singkat isi video yang dibagikan pada anggota kelompok lain. 
4.1.2  Hasil dan Pembahasan Siklus I pada Pertemuan ke-2
Selama pertemuan kedua , ditemukan bahwa 29,92 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban kelompok I (lihat lampiran 6). Dari segi keterampilan berbicara, sudah nampak terjadi peningkatan 39,02 % siswa yang memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 7) Walaupun demikian, peneliti masih perlu memberikan motivasi dan menjelaskan kalimat atau tata bahasa yang sebaiknya diperbaiki misal : if parents can’t manage his time, I will feel surprised  dan in one side, on the other side (lihat lampiran 8) sebelum menutup pelajaran sembari mengatakan bahwa selanjutnya kegiatan akan diteruskan dengan presentasi kelompok II pada pertemuan berikutnya.
4.1.3  Hasil dan Pembahasan Siklus I pada Pertemuan ke-3
    Selama pertemuan ketiga, 34,14 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban kelompok II (lihat lampiran 9). Dari segi keterampilan berbicara, sudah nampak terjadi peningkatan 41,14 % siswa sudah memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 10) dengan pertanyaan yang lebih kritis dan jawaban yang lebih detil (lihat lampiran 11).
Sebelum kegiatan berakhir, peneliti menyimpulkan jawaban siswa dan menjelaskan pilihan kata atau frase dan tata bahasa yang kurang tepat dalam bertanya yaitu : smile baby, although face the problem that to not to be stress, with smile fight the problem. Melihat antusiasme siswa dalam bertanya dan mengikuti PBM, peneliti menyimpulkan kegiatan ini dapat dilanjutkan pada siklus II.
4.2   Hasil dan Pembahasan Tindakan Siklus II
Tindakan siklus II dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung selama 45 menit.
4.2.1  Hasil dan Pembahasan Siklus II pada Pertemuan ke-1
Selama pertemuan kesatu, 39,02 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban kelompok III (lihat lampiran 12). Dari segi keterampilan berbicara, sudah nampak terjadi peningkatan terdapat 48,78 % siswa yang sudah memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 13) dengan pertanyaan yang lebih kritis dan jawaban yang lebih detil (lihat lampiran 14).
Dari kegiatan presentasi pertemuan I dapat disimpulkan bahwa dengan lebih
sering diberi kesempatan berbicara, kepercayaan diri siswa semakin meningkat. Untuk itu peneliti menyimpulkan kegiatan ini dapat dilanjutkan pada kegiatan ke dua setelah menjelaskan kata-kata seperti : delete dan care with yang kurang pas dipakai pada konteks kalimat yang digunakan.
4.2.2  Hasil dan Pembahasan Siklus II pada Pertemuan ke-2
Selama pertemuan kedua, 29,26 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban kelompok IV (lihat lampiran 15). Pada tindakan ke-2 siklus kedua ini jumlah siswa yang terlibat dalam berbicara menurun (lihat lampiran 17). Hal ini bisa terjadi karena masalah yang muncul pada presentasi agak sulit dicerna. Partisipan dari kelompok lain meminta kelompok V memutar ulang video mereka untuk kali kedua. Dari segi keterampilan berbicara, terjadi peningkatan yakni 60,97 % siswa sudah memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 16).
Sebelum kegiatan berakhir, peneliti menyimpulkan jawaban siswa sambil
menjelaskan penggunaan kata development dan delay. Presentasi menggunakan video pendek akan diakhiri dengan penampilan kelompok V pada tindakan ke-3.
4.2.3  Hasil dan Pembahasan Siklus II pada Pertemuan ke-3
Selama pertemuan ketiga, 51,12 % siswa terlibat secara aktif dalam berbicara, baik bertanya, menjawab maupun menyanggah jawaban kelompok V (lihat lampiran 18). Pertanyaan yang diajukan lebih kritis dan jawaban yang lebih detil dalam kalimat yang lebih bermakna (lihat lampiran 20).
Dari segi keterampilan berbicara, semakin nampak terjadi peningkatan yang signifikan yakni 68,29 % siswa telah memiliki kemampuan baik (lihat lampiran 19). 28 orang dari 41 siswa kelas XII IPA I sudah mampu berbicara bahasa Inggris dengan lancar, walaupun untuk pronunciation dan stress masih perlu latihan lebih lanjut pada kegiatan lain.
Dari kesemua proses tindakan yang sudah dilakukan pada siklus I dan II, peneliti menyimpulkan bahwa keterampilan berbicara siswa dapat ditingkatkan dengan presentasi menggunakan video pendek. Dari segi  kwantitas  siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan seperti terlihat pada lembar observasi maupun catatan lapangan. Sedangkan dari segi kwantitas keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa lebih meningkat sebagaimana nampak pada tabel nilai mid semester genap tahun pelajaran 2009/2010 dan tabel nilai ujian praktik berbicara pada tahun pelajaran yang sama.
TABEL 4
DAFTAR NILAI MID SEMESTER GENAP        Mata Pelajaran    : Bahasa Inggris
ASPEK PSIKOMOTORIK                Kelas/program    : XII IPA 1
TAHUN PELAJARAN : 2009/2010            Semester    : Ganjil
                           
KKM        : 72


No    Nama Siswa    Nilai    Ketercapaian Kompetensi
1    Ahamad Dedat    95    Mencapai KKM
2    Aninditha Rahmah R    80    Mencapai KKM
3    Anita Carolina    80    Mencapai KKM
4    Apriyanti    70    Belum Mencapai KKM
5    Arif Kusuma Nugraha    75    Mencapai KKM
6    Arindona    86    Mencapai KKM
7    Bagus Praseptyo Aji A    78    Mencapai KKM
8    Bima Sanjaya    85    Mencapai KKM
9    Deta Helisanova    82    Mencapai KKM
10    Devita Sari    81    Mencapai KKM
11    Dhani Wisnu Saputro    78    Mencapai KKM
12    Eryleo Ridho    76    Mencapai KKM
13    Etty Oktaria    88    Mencapai KKM
14    Fasha Qarie Barda    85    Mencapai KKM
15    Fatma Olina    86    Mencapai KKM
16    Fauzi Widiyanto    80    Mencapai KKM
17    Hengky Saputra    80    Mencapai KKM
18    Herdi Saputra    77    Mencapai KKM
19    Ira Purnamasari    82    Mencapai KKM
20    Karina Dwi Aragi    88    Mencapai KKM
21    Linda Hastuti    80    Mencapai KKM
22    M Afdal    85    Mencapai KKM
23    M Reza Pahlevi    85    Mencapai KKM
24    Masayu Vidia Silvany    76    Mencapai KKM
25    Melissa Sundari    85    Mencapai KKM
26    Meta Yuliana    88    Mencapai KKM
27    Mona Herlianti Siahaan    80    Mencapai KKM
28    Noval Agustian    86    Mencapai KKM
29    Nora Soraya Sinabutar    82    Mencapai KKM
30    Ovillia Della Prativi    96    Mencapai KKM
31    Peggy Septianingrum    78    Mencapai KKM
32    Riki Apriansyah    75    Mencapai KKM
33    Riski Lesponda    75    Mencapai KKM
34    Rizka Agustin    85    Mencapai KKM
35    Rizki Juliantara    87    Mencapai KKM
36    Sadra Ihsani    76    Mencapai KKM
37    Ummi Wahyuni    85    Mencapai KKM
38    Vera Rosalina S    78    Mencapai KKM
39    Yessy Seftiani    75    Mencapai KKM
40    Yulia Putri Maya Sari    71    Belum Mencapai KKM
41    Zainuna Rahayu    88    Mencapai KKM

Sumber : Daftar Nilai SMA N 4 OKU

TABEL 5
DAFTAR NILAI UJIAN PRAKTIK BERBICARA 
KELAS XII IPA 1 SMA N 4 OKU TAHUN PELAJARAN 2009/2010


No    Nama Siswa    Nilai    Ketercapaian Kompetensi
1    Ahamad Dedat    89    Mencapai KKM
2    Aninditha Rahmah R    79    Mencapai KKM
3    Anita Carolina    76    Mencapai KKM
4    Apriyanti    75    Mencapai KKM
5    Arif Kusuma Nugraha    75    Mencapai KKM
6    Arindona    84    Mencapai KKM
7    Bagus Praseptyo Aji A    79    Mencapai KKM
8    Bima Sanjaya    81    Mencapai KKM
9    Deta Helisanova    78    Mencapai KKM
10    Devita Sari    80    Mencapai KKM
11    Dhani Wisnu Saputro    80    Mencapai KKM
12    Eryleo Ridho    74    Mencapai KKM
13    Etty Oktaria    84    Mencapai KKM
14    Fasha Qarie Barda    81    Mencapai KKM
15    Fatma Olina    85    Mencapai KKM
16    Fauzi Widiyanto    81    Mencapai KKM
17    Hengky Saputra    78    Mencapai KKM
18    Herdi Saputra    80    Mencapai KKM
19    Ira Purnamasari    80    Mencapai KKM
20    Karina Dwi Aragi    85    Mencapai KKM
21    Linda Hastuti    79    Mencapai KKM
22    M Afdal    81    Mencapai KKM
23    M Reza Pahlevi    84    Mencapai KKM
24    Masayu Vidia Silvany    75    Mencapai KKM
25    Melissa Sundari    87    Mencapai KKM
26    Meta Yuliana    88    Mencapai KKM
27    Mona Herlianti Siahaan    77    Mencapai KKM
28    Noval Agustian    88    Mencapai KKM
29    Nora Soraya Sinabutar    81    Mencapai KKM
30    Ovillia Della Prativi    90    Mencapai KKM
31    Peggy Septianingrum    78    Mencapai KKM
32    Riki Apriansyah    76    Mencapai KKM
33    Riski Lesponda    84    Mencapai KKM
34    Rizka Agustin    85    Mencapai KKM
35    Rizki Juliantara    85    Mencapai KKM
36    Sadra Ihsani    77    Mencapai KKM
37    Ummi Wahyuni    83    Mencapai KKM
38    Vera Rosalina S    77    Mencapai KKM
39    Yessy Seftiani    77    Mencapai KKM
40    Yulia Putri Maya Sari    74    Mencapai KKM
41    Zainuna Rahayu    88    Mencapai KKM

Sumber : Daftar Nilai SMA N 4 OKU





















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1  Simpulan
Setelah diadakan perlakuan kepada siswa, hasil pembelajaran siswa dapat meningkat bila dibandingkan dengani data sebelum perlakuan berlangsung. Hasil pembelajaran pada hasil ujian semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 aspek psikomotorik,  41,46 % (17 orang siswa) belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 72 dengan nilai rata-rata 72,90 sedangkan setelah perlakuan berlangsung terlihat pada daftar nilai mid semester genap aspek psikomotorik tahun pelajaran 2009/2010 nilai rata-rata mencapai 81,65 dengan ketuntasan  95, 12 % (39 orang siswa) melampaui KKM 72. Selain itu peningkatan juga nampak pada daftar nilai ujian praktik berbicara pada tahun pelajaran yang sama 100 % siswa mencapai KKM dengan nilai rata-rata 79,12.
Berdasarkan hasil penelitian siswa terlihat antusias dalam pembelajaran. Hal ini ditandai dengan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dalam setiap siklusnya. Kesempatan berlatih menyampaikan ide secara lisan tidak hanya didominasi oleh siswa yang berkemampuan baik tapi juga mampu memotivasi siswa yang terlihat kurang aktif sebelum perlakukan dilaksanakan. Selain itu, siswa merasa senang dengan pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran yang ditemui siswa selama ini. Melihat keberhasilan kegiatan pembelajaran menggunakan video pendek dalam presentasi disarankan prosedur yang diterapkan hendaknya meliputi : menyampaikan tujuan pelajaran, membagikan salinan deskripsi isi video, menampilkan video, presentasi serta menutup pelajaran.
5.2   Saran
Hal yang dapat disarankah dari  penelitian ini adalah perlunya variasi dalam proses pembelajaran. Dengan adanya variasi dalam PBM akan memnimbulakan motivasi siswa untuk belajar dalam suasana yang menyenangkan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, G and G.Yule. 1983. Teaching the Spoken Language.                 Cambridge : University Press.


BSNP dan Departemen Pendidikan Nasional. 2007.
Petunjuk Teknis Pengambangan Silabus Dan contoh/Model Silabus: Jakarta.


Cholewinski, Micahel. 1996. Fishbowl: A Speaking Activity
dalam (http://eca.state.gov./forum/vols/vol137/no4/p.25.htm).
diakses  tanggal 24 Nopember 2009.


Cahyono, Bambang Yudi. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris : TEHNIK, STRATEGI,
dan HASIL PENELITIAN  : PENERBIT IKIP MALANG: Malang.


Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Pendidkan Nasional RI:
Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
: Jakarta.

Eileli, Meral. 1996.  A Cognitive Developmental Approach to Conversation            dalam http://eca.state.gov/forum/vols/vol34/no4/p103.htm.             diakses 24 Nopember 2009.


Gunawan, Adi W. 2003. Genius Learning Strategy. PT Gramedia Pustaka Utama:             Jakarta.


Robinett, Betty Wallace. 1980. Teaching English to Speakers of Other Languages :                                         Substance and Technique. Minniapolis, MN : University of Minnessota Press.


Spratt, Mary dan Dangerfield, Les. 1985. At The Chalkface: Peactical Techniques in Language Teaching, Edward Arlnold: Maryland.


Suhardjono. et al. 2006. PENELITIAN TINDAKAN KELAS. Bumi Aksara. Jakarta.

Tim Penyusun Kamus. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Jakarta.



Yang, Suying. 2000. Classroom Speaking Activities.
    dalam http://eca.state.gov./forum/vols/vol137/no4/p22.htm. diakses tanggal 26     Nopember 2009.


Zhang, Yang, 2009. Reading to Speak: Integrating oral Communications Skills.
    dalam http://eca.state.gov./forum/vols/vol137/no1/p32.htm. diakses 24 Februari     2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar